Pages

8.18.2011

Serapah si Patah Hati




ucap cinta
seakan-akan tak akan pernah ada luka yang disimpan.

ucap rindu
seolah-olah tak ada yang sudah mengendap-endap dibalik dusta.

ucap setia
seperti tak memiliki kekosongan dibalik janji.


Masihkah harus terus begitu?


Matilah saja dengan luka-luka yang kau torehkan !

Gyeogja




Kalau bukan kamu,
Lalu siapa lagi?
Siapa yang terus hadir dibenakku saat mimpi indah tentang kesetiaan memelukku erat ?

Kalau bukan kamu,
Lalu bisa siapa?
Siapa yang mampu menghadap begitu cepat ke pikiranku saat kepastian janji menuntut ?

Kalau bukan kamu,
Lalu harus siapa?
Siapa yang pantas memenuhi panggilan kerinduan yang tak jua berhenti ?

Katakan,

Haruskah bukan kamu

Not The One Yet.



Aku mencintaimu, . . .
Harus ku panggil dengan sebutan apa kau?

Sayang?
Cinta?
Honey?

Tidak.

Bukan.

Hmm... Hmm... Hmm...

Argghhhh!
Aku menghabiskan terlalu banyak karakter dalam ketikan jemariku pada papan kunci ini.

Tuh kan...

Sudahlah.
Cukup memanggilmu dengan namamu saja ya...?

Heyy,,, sebentar...
Aku kan belum tau namamu 


Siapa namamu, wahai pendamping hidupku...?

Dengki.


Hentikan disini saja.

Aku lebih memilih diam dibanding memaki.

Aku lebih memilih tak berwajah dibanding menekuk wajah cantikku ini.

Kau memang tak akan mengerti tentang perasaan tak menentu ini.

Tentang apa yang kurasa.

bahwa aku MUAK !

Hentikan,
cukup sampai disini saja.

6.11.2011

It Callled 'Destiny'


Optimis: Takdir
Pesimis: Kebetulan

Optimis: Mungkin
Pesimis: Nggak mungkin

Optimis: Harusnya
Pesimis:Seandainya

Optimis: Yakin
Pesimis: Mencoba yakin

Optimis: Berusaha
Pesimis: Menyerah

Tak mudah, tapi harus dicoba untuk tahu akhir kisahnya...

Kenyataan?

Tak terucap,

Namun begitu menusuk...

Sebegini menyakitkanyakah setelah mengetahuinya?

Mengetahui bahwa aku penghalang terbesar kebahagiaanmu.




Tak pernah terbersit,

Namun memang seperti ini adanya.

Aku yang tak mampu hidup dalam luka,

Memilih untuk menuangkan luka itu pada cawan hati orang lain,

Dirimu.



Menyesal terkadang,

Namun tak mungkin untuk mundur.

Biarlah kucoba tetap berada dalam posisi menyulitkan ini.

Karna hanya ini yang bisa kulakukan selain diam.



Maaf,

Tak pernah bermaksud...



Senja yang Mendung, 15:28

6.04.2011

Uang.

Lihat benda itu.
Tak bernyawa tapi membunuh.


Lihat saja,
Berapa keluarga yang pecah?
Berapa nyawa yang hilang?
Berapa cinta yang musnah?


Benda itu.
Dua sisi.
Baik.
Buruk.
Ingin tapi tak mau.
Bisa tapi tak harap.
Jika memang membunuh, buat apa?