Pages

2.20.2011

[Luka]

Aku,

Hanya seorang penyimpan luka,

Pengendap lara,

Pelarut nelangsa...



Ada gores tanpa balutan.

Entah dimana,

Hanya representasinya yang ku tahu ada.

Disudut mata ini.



Yang kutakutkan terjadi,

Saat duka mengetuk hati,

Saat hampa memasuki jiwa,

Saat airmata mengusir cita.



Aku takut,

Takut berburu dengan lara.

Aku takut,

Takut luka itu kembali menganga.



Pecundang luka. 

 

2.16.2011

Mengertilah

Bahkan...

Dalam keterpurukan ini aku tetap setia menulis untukmu...

Tidakkah kau tahu,

Aku mencintaimu

Seperti kata yang tak sempat kulisankan...

Seperti kenyataan yang berlarian dengan keinginan...

Seperti nelangsa yang coba kupautkan kedalam bahagia...



Tak bisakah kau mengerti?



Bagaimana kau mengerti,

Jika telinga sempurnamu tak kau gunakan untuk mendengar,

Jika mata sempurnamu tak kau gunakan untuk melihat,

Terlebih...

Jika hati sempurnamu tak kau gunakan untuk merasa...



Semua bahasa tanpa kata,

Semua kebaikan tanpa laku,

Semua alunan nada tanpa suara,

Tetap bisa terasa jika kau mau...



Mau mencintaiku... 

 

2.15.2011

Surat Cinta Untuk Sang Kekasih Harapan


Tanpa kusadari dan kuperdulikan, banyak orang yang memijakkan harapannya didepan rumahku. Pagi, siang, sore, sampai malam menyergap. Mereka bergantian selalu setia menemani jalan depan rumahku dengan meneriakkan dagangannya atau memukul sesuatu untuk menandakan kehadiran mereka. Dengan harapan ada orang yang memanggilnya agar supaya mereka dapat pulang kerumah lebih cepat... Supaya mereka bisa melihat keluarganya bahagia dengan hasil keringat yang mereka bawa...
Apakah hidup mereka sulit? Aku pastikan ya, tapi mereka tidak hanya merasakannya, mereka bergerak untuk memperoleh rupiah demi rupiah yang sekarang semakin langka karena keserakahan antek-antek setan berwujud manusia, yang sedang larut dalam kamuflase nyamannya harta dan tahta yang disalahgunakan... Mereka sadar, bahwa harapan bukan hanya untuk dirasakan keberadaannya, namun juga untuk diperlakukan sebagai kenyataan, oleh karena itulah mereka bekerja...
Lihatlah... mereka tidak malu berteriak “sayur...!” atau “rujak...!”, karna teriakkan itu adalah pekikan harapan hidup mereka... Mereka tidak takut siang yang terik dan malam yang mencekam, karna siang dan malamlah yang menjadi saksi genggaman harapan mereka. Pun mereka berusaha tidak marah saat sang pembeli memarahi atau mengeluhkan pelayanan mereka, karna mereka tahu pembeli adalah raja, walaupun dunia lebih tau kalau tidak ada raja yang akan membeli dagangan mereka.

Tuhan...
Nikmat mana yang kudustakan...???
Tak pernah aku berteriak lantang menyebutkan “sayurr..!” atau “rujak...!”, pun berjuang mempertahankan harga untuk memekikkan harapanku...
Tak pernah aku harus kepanasan dibawah teriknya matahari, pun kedinginan dikala malam datang untuk menggenggam harapanku...
Sampai hari ini, saat aku baru menyadari itu semua...
Sadar bahwa banyak orang yang kulihat berjalan melewati rumahku setiap hari...
Bukan hanya untuk berteriak sia-sia, melainkan untuk menjemput rizkimu...
Sadar bahwa aku pun harus memulai mewujudkan harapanku...
Walau tak sekuat dan seteguh mereka, akan kumulai dari sini, dari tulisan ini...
Bismillahirrahmanirrahim...



Ditulis untuk mereka, para pemekik dan penggenggam harapan...
-Terimakasih telah bersuara lantang untuk menggetarkkan harapanku-
Mas-mas Penjual Bacang Mas-mas Penjual Koran Mbak Penjual Kue Bapak Penjual Bubur Bapak dan Ibu Penjual sayur Nenek penjual sapu Bapak tukang jahit Abang tukang ketoprak Bapak penjual gado-gado Bapak penjual bubur kacang hijau Mas-mas penjual es krim Abang tukang rujak Bapak penjual rujak bebek Bapak penjual asinan Abang tukang somay Abang tukang bakso Abang tukang mie ayam Mbak penjual bubur sumsum Bapak penjual bajigur Abang Tukang nasgor Abang tukang sate Bapak penjual sekoteng
Serta...
Para Tukang Sampah
Para peminta sumbangan
Para pengamen
Para pemulung

Yang mencintai dunia dari sisi lainnya...

2.07.2011

Beliau.

Lihatlah perempuan itu...

Apakah ia bahagia menjalani hidupnya yang berat itu...?



Lihatlah perempuan itu...

Apakah ia selalu tersenyum ditengah kesulitan hidupnya seperti yang kulihat setiap harinya...?



Lihatlah perempuan itu...

Memikul beban keluarganya seorang diri...

Tanpa belahan jiwa disampingnya...

Tanpa keluarga hangat yang akan memelukanya dikala ia sedih...



Lihatlah ia...

Seorang perempuan yang berada ditengah-tengah kita...

Jangan menutup mata atasnya...



Ditulis saat seorang penjual sapu melewati rumah hangatku...



-Aku Bersyukur Dengan Hidupku Tuhan- 

2.05.2011

[...]

Pernahkah kau merasa rindu sampai raga tak lagi mau berdiri tegar...?

Pernahkah kau merasa rindu sampai jiwa merintih nelangsa...?

Pernahkah kau merasa rindu sampai ruh seperti menghilang dari jiwa dan raga...?



Pernahkah kau merindukan dia yang tak pernah kau ketahui keberadaannya?

Keadaannya...?

Sehatkah, Sakitkah, Amankah, Sengsarakah,

Atau...

Setidaknya mengetahui ia masih bernafas ditengah kerinduannya padamu jua..?



Aku sedang merasakannya,

Merasakan rindu yang menyesakkan dada,

Menguras emosi jiwa,

Dan menciptakan duka yang begitu mendalam,



Tak ada yang aku ingin ucapkan padanya,

Walau sekedar kenyataan bahwa aku merindukannya...



Tak ada yang aku ingin lakukan padanya,

Walau sekedar menikmati pelukkan yang tak pernah kudapatkan darinya...



Tuhan...

Aku hanya ingin tanda-Mu bahwa ia masih kau beri kesempatan untuk hidup, sama sepertiku...



Tuhan...

 
“Aku ...”

Ditulis dengan keramaian sebuah ruang rindu untukmu yang mencintaiku tanpa cinta...
 

2.04.2011

[SesaL]

Pernah aku merindukanmu hingga habis lembaran kertas untuk menuliskan kata rindu.

Pernah aku memimpikanmu hingga habis detik demi detik malamku mewujudkan bayangmu.


Pernah aku menyayangimu hingga gila ku kau buat.

Pernah aku mencintaimu hingga jenuh pun tak mau lagi singgah.

Harusnya rindu, mimpi, sayang, cinta itu hanya 'pernah' bukan 'masih' untuk akhir untaian kata-kata ini...





Ditulis dengan asa yang tersisa.

1.30.2011

Rindu kamu [lagi]


Masih pantaskah aku megucap rindu ketika jarak itu terpaut jauh?

Masih pantaskah aku mengucap rindu ketika kau tak lagi mengenal kata itu?

Masih pantaskah aku mengucap rindu ketika namaku pun tak lagi terpaut dibenakmu?
  
Lalu, jika memang rindu itu tak lagi menuntut kepantasan, masih dapatkah aku merasa...?

        Untukmu yang kurindukan, baik-baikkah kau disana? Merasakankah apa yang kurasakan detik ini? aku merindukanmu... masih sama seperti merindukanmu diawal perpisahan bulan Juni itu... Hey, taukah kau, banyak cerita yang kusimpan untukmu, berharap suatu hari nanti saat kita bertemu kau mau mendengarkannya walaupun sebentar. Kapan ya kita bertemu...? jarak yang hanya sedekat ini mengapa tak sanggup kubiaskan ya...? Ya... jika kau katakan aku takut, aku memang takut. Aku tak ut membuatmu mengasihaniku lagi, mengasihani keadaan yang kuciptakan sendiri.
       Hey, masih ingat kan namaku? wajahku? setidaknya jika kau melihatku nanti, berilah senyuman untukku. Hanya itu, senyumanmu... Tapi, kapan ya...?

Aku rindu kamu,


Ditulis dengan perasaan rindu untuk kamu...