Pages

3.13.2011

Balada Cinta Kera.

Saat cinta menghampirimu,

Jangan lupa.

Bahwa masih ada kecewa yang mengendap-endap dibelakangmu.

Bahwa masih ada luka yang masih harus kau tutupi.



Sadarlah.

Cinta itu manis tanpa kecewa dan luka.



Tapi, saat mereka menghampiri cintamu,

Hah!

Sekejap saja kau akan lupa kalau kau sedang jatuh cinta.

Kalau kau menjatuhkan cintamu tanpa arah,



Kau tahu kenapa?

Karna cintamu sama saja dengan representasi sebuah kekecewaan yang perlahan menjadi luka.



Pikirkanlah sebanyak kau bisa,

Cinta mana yang kau bilang tak akan berujung???

Mungkin,

Lebih tepatnya tak MAU berujung saja, bodoh!



Kini,

Saat kau menyadari bahasa cintamu yang kau bilang indah itu kemudian menjadi egomu sendiri,

Jawablah,

Cinta seperti apa yang pernah kau berikan...??? 

3.11.2011

Bukan Apa-Apa

Aku merajut luka diatas kerapuhan hati.



Mencoba menutupinya tapi tak mampu.



Aku ini hati yang membusuk.

Teradudomba dengan segala dusta.



Tak tahan lagi dengan duka,

Makanya aku menulis.



Tak kah pernah kau pertimbangkan asaku?

Kau lewatkankah tanpa kau toleh sedikitpun?



Aku manusia.

Sedang terluka.

Merana.

berAsa kau mendengar,

merasa,

namun hampa.



Aku kecewa.

2.28.2011

Almost.

Teruntuk kakakku,


Selamat...


Telah berhasil melakukan yang terbaik...






Membanggakan,


Satu kata singkat menggambarkan dirimu,,






Aku tau,


Tak mudah.


Tapi aku lebih tau,


Tak sulit untukmu bisa melewatinya.






Jangan berhenti.


Masih banyak yang menunggumu untuk kau perjuangkan...


Masih banyak bahagia yang menantimu untuk kau rangkul...






Dan masih banyak kata yang seharusnya kuucapkan.


Tapi tak disini.


Dan tidak sekarang.






With Love,

Representasi Dukamu?





Aku tak ingin menulis lagi jika semua tentang luka.


Luka yang lahir dari kata-kata kasarmu.






Semua percuma kau bilang?


Mungkin hanya tak sesuai pengharapanmu saja,wahai makhluk sempurna!






Coba rengkuh hatimu yang beku itu,


Lihat betapa banyak luka disana...


Luka yang kau simpan sendiri hingga akhirnya membusuk menjadi duka.






Salahku,


Mengharap sesuatu yang benar namun bukan pada orang yang tepat.


Ya,


Aku memang yang lebih bodoh dari keadaan yang kau cipta.






Cinta?


Jangan tanyakan lagi hal itu padaku.


Sudah mengendap jadi lara yang berwujud nelangsa dan bersuara derita.






Aku tak ingin menulis lagi jika semua tentang luka.






Jika ini yang kau pertanyakan,


Ini bukan luka, duhai makhluk sempurna.


Ini representasi lain dari pengharapanmu yang kumusnahkan!






Aku muak!

2.27.2011

Kupertanyakan.




Ini bukan lagi hanya luka.


Ini duka.


Luka yang terasa, sehingga menjadi duka.






Semua yang kau lontarkan benar adanya,


Lalu,


Mengapa harus aku mengalami duka ini?






Kenyataan,


Tak bisakah kau sedikit berdusta untuk tak membuat luka?


Tak bisakah luka yang ada tak kau simpan menjadi duka?






Kenapa?


Kenapa harus hari ini?


Tak bisakah kemarin?


Taun depan?


Atau bahkan..


Tak usahlah kau adakan kenyataan ini...






Egois?


Ya, aku memang egois.


Aku kan mencontohmu, wahai kenyataan...


Egois membeberkan semua duka...


Egois memaparkan semua bahasa luka...






Sudah! Sudah!


Aku cukup lelah dengan semua elegi ini.


Aku ingin mata ini terpejam, sejenak.


Sungguh, hanya sejenak.


Untuk selanjutnya kulanjutkan duka ini menjadi apa yang seharusnya kau lihat.

Tentang Pagi Itu.

Luka,
Bukankah sering terasa?
Lalu,
Mengapa kembali kupertanyakan.

Aku,
Sang pemilik luka,
Mencoba merangkak menelusuri cintamu.
Masih dapatkah?

Aku tahu,
Semua yang kudapatkan tak lain karna pembalasan atas dosaku.

Lalu, mengapa luka itu masih saja terasa perih menggores hati?
Karna adamukah?

Mungkin.

2.26.2011

Retorik.

Aku benci cinta.

Tentang cinta.

Kata cinta.

Cerita cinta.

Puisi cinta.

Bahasa cinta.

Rayuan cinta.

Warna cinta.

Dan tentang apapun tentang cinta.



Lalu,

Mengapa aku masih menyebut cinta?