Pages

8.19.2011

Relevansi.



Aku.
Penghayal ragamu.
Penikmat rupamu.

Tanpa bisa meraba-raba,
Seperti apa hatimu.

Masih sebentuk ruang kosongkah?
Atau kini telah terdapat ruang milik seseorang disana?
Hfffttt... aku tak akan pernah tau.



Kamu.
Yang setiap waktu menjelajahi,
Berlari,
kemudian berhenti.
Tepat disini,
Hati.

Tanpa kutau,
Bahwa ternyata akhirnya bukan kamu,
melainkan sesosok fatamorgana mewujudkan bayanganmu atas imajiku.


Kita.
Teruskah selalu begini?
Aku yang selalu diam menanti,
dan Kamu yang selalu berlari mencari.
Tanpa pernah tau,
Apakah akhirnya pertemuan,
atau hanya sekedar perlintasan.


Aku, Kamu, dengan Dunia.




Jika saja bukan karena kerinduan ini,
Aku pasti sudah jauh entah kemana.

Jika saja bukan karena keterpautan ini,
Kamu pasti sudah tak disini sekarang.

Jika saja bukan karena kebersamaan ini,
Kita pasti tak saling memiliki diwaktu ini.

Jangan berjanji untukku,
Karena baik aku ataupun kamu tak pernah tau,
Jikalau dunia memang tak pernah henti mempermainkan kita yang ingin bersama.

Cukup yakin dan berusahalah,
Kalau dunia tak akan cukup mampu menghadirkan perpisahan dengan seluruh keegoisannya.

Berpeganglah pada kenangan yang selalu kita buat,
Jangan lepaskan sekalipun sebentar.
Karena baik aku ataupun kamu,
Tak pernah tau kapan kenangan itu akan melepaskan dirinya sendiri,
dari aku dan kamu.

"Tak ada yang akan bisa selalu bersama, namun biarkan ketiadaan itu hanya datang setelah ruh terlepas dari raga"

8.18.2011

Ungkap.

"Dengan mudahnya aku merajut kata.
tapi tidak untuk menadakannya"


Aku memang pengecut !

Menyembunyikan ego dibalik ketikan jemari pada sebuah benda mati.

Karena itu,
Aku tak mampu menahannya pergi.
pun menghapuskan masa lalu yang selalu saja mengkaitkan dirinya denganku.

Mengkisahkan lewat deretan kata itu lebih mudah untukku,
dibandingkan dengan melagukannya.

Karena itu,
Biarkan aku mengetikkan pikiranku ini.

Karena itu,
jangan paksa aku untuk berbicara.

Aku mohon...

Aku tak mau kehilanganmu, nyonya...

Serapah si Patah Hati




ucap cinta
seakan-akan tak akan pernah ada luka yang disimpan.

ucap rindu
seolah-olah tak ada yang sudah mengendap-endap dibalik dusta.

ucap setia
seperti tak memiliki kekosongan dibalik janji.


Masihkah harus terus begitu?


Matilah saja dengan luka-luka yang kau torehkan !

Gyeogja




Kalau bukan kamu,
Lalu siapa lagi?
Siapa yang terus hadir dibenakku saat mimpi indah tentang kesetiaan memelukku erat ?

Kalau bukan kamu,
Lalu bisa siapa?
Siapa yang mampu menghadap begitu cepat ke pikiranku saat kepastian janji menuntut ?

Kalau bukan kamu,
Lalu harus siapa?
Siapa yang pantas memenuhi panggilan kerinduan yang tak jua berhenti ?

Katakan,

Haruskah bukan kamu

Not The One Yet.



Aku mencintaimu, . . .
Harus ku panggil dengan sebutan apa kau?

Sayang?
Cinta?
Honey?

Tidak.

Bukan.

Hmm... Hmm... Hmm...

Argghhhh!
Aku menghabiskan terlalu banyak karakter dalam ketikan jemariku pada papan kunci ini.

Tuh kan...

Sudahlah.
Cukup memanggilmu dengan namamu saja ya...?

Heyy,,, sebentar...
Aku kan belum tau namamu 


Siapa namamu, wahai pendamping hidupku...?

Dengki.


Hentikan disini saja.

Aku lebih memilih diam dibanding memaki.

Aku lebih memilih tak berwajah dibanding menekuk wajah cantikku ini.

Kau memang tak akan mengerti tentang perasaan tak menentu ini.

Tentang apa yang kurasa.

bahwa aku MUAK !

Hentikan,
cukup sampai disini saja.